"Mengapa begitu sering kamu mengucap kata ya sudah?"
Dari pertanyaan itu tersirat sebuah kekecewaan dan rasa takut.
Mungkin ia takut karna aku seperti tidak ingin mempertahankan semua yang ada.
Aku tahu ia takut karena kata itu dimatanya berarti "menyerah", "tidak berarti".
Bukan maksud ku untuk membuatmu takut dan merasa bahwa kamu tidak berarti sehingga aku tidak memperjuangkan keberadaanmu sayang. Kamu menganggapnya dengan artian yang salah.
Kata itu bukanlah suatu kata akan kepasrahan.
Nyatanya aku selalu berjuang, tapi ketika kusadari sudah tidak ada lagi ruang untuku, hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.
Aku mengucapkan itu hanya karena aku sudah terlalu lelah akan perjuangan.
Lelah yang akhirnya membentuk sebuah kepribadian yang lain, yang akhirnya menjadikan kata "ya sudah" itu sebagai sebuah benteng perlindungan akan rapuhnya benda yang dibentengi olehnya.
Benda yang bernama perasaan, hati.
Aku lelah, lelah membiarkan seseorang menorehkan sebuah perasaan yang terlalu dalam yang akhirnya hanya meninggalkan sebuah luka baru, tatkala luka lama ku belum juga mengering.
Aku lelah, lelah menyayangi dan disia-siakan.
Sayangnya tidak ada tempat untuk kelelahanku itu, untuk tetap bisa melawan segala realita kehidupan aku harus bisa kuat! Dan aku sadar bahwa tidak ad yang bisa diharapkan, tak seorang pun. Dan benteng ini lah yang menjagaku tetap berdiri teguh walau terkadang hatiku jatuh dan menangis karna sakit.
Dari pertanyaan itu tersirat sebuah kekecewaan dan rasa takut.
Mungkin ia takut karna aku seperti tidak ingin mempertahankan semua yang ada.
Aku tahu ia takut karena kata itu dimatanya berarti "menyerah", "tidak berarti".
Bukan maksud ku untuk membuatmu takut dan merasa bahwa kamu tidak berarti sehingga aku tidak memperjuangkan keberadaanmu sayang. Kamu menganggapnya dengan artian yang salah.
Kata itu bukanlah suatu kata akan kepasrahan.
Nyatanya aku selalu berjuang, tapi ketika kusadari sudah tidak ada lagi ruang untuku, hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.
Aku mengucapkan itu hanya karena aku sudah terlalu lelah akan perjuangan.
Lelah yang akhirnya membentuk sebuah kepribadian yang lain, yang akhirnya menjadikan kata "ya sudah" itu sebagai sebuah benteng perlindungan akan rapuhnya benda yang dibentengi olehnya.
Benda yang bernama perasaan, hati.
Aku lelah, lelah membiarkan seseorang menorehkan sebuah perasaan yang terlalu dalam yang akhirnya hanya meninggalkan sebuah luka baru, tatkala luka lama ku belum juga mengering.
Aku lelah, lelah menyayangi dan disia-siakan.
Sayangnya tidak ada tempat untuk kelelahanku itu, untuk tetap bisa melawan segala realita kehidupan aku harus bisa kuat! Dan aku sadar bahwa tidak ad yang bisa diharapkan, tak seorang pun. Dan benteng ini lah yang menjagaku tetap berdiri teguh walau terkadang hatiku jatuh dan menangis karna sakit.
If there is no more space for me, I'm just gonna let it be so I can be strong enough :)
Nc.
No comments:
Post a Comment